Street Art Verse menyelenggarakan temu komunitas pada Sabtu, 4 Oktober 2025 di ruang A 2.1.a lantai 2 Gedung FIB A Universitas Brawijaya. Acara ini menjadi ruang diskusi terbuka antara Street Art Verse dengan para pegiat dan komunitas street art di Malang. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk diskusi mengenai arsip visual jalanan sekaligus memperkenalkan platform Street Art Verse sebagai wadah dokumentasi, arsip, serta jejaring bagi para seniman dan komunitas street art di kota Malang. Kegiatan dibuka dengan pengenalan singkat mengenai latar belakang Street Art Verse yang digagas sebagai upaya membangun ruang digital bagi arsip karya dan aktivitas street art.
Yahya mengawali diskusi dengan menyinggung tentang pentingnya keberadaan tim yang solid dalam membangun platform ini. Ia juga menanyakan cara berpartisipasi di Street Art Verse, yang kemudian dijelaskan dapat dilakukan melalui fitur “Join Us” pada bagian artist dan community di web Street Art Verse. Masukan positif datang dari berbagai peserta komunitas. Virhan menilai bahwa langkah ini merupakan pergerakan yang baik dalam mendukung perkembangan street art di Malang. Ia mendorong agar platform ini terus dikembangkan secara kolaboratif dengan berbagai pihak.

Sumber: dokumentasi tim street art verse
Sementara itu, Andis dari Malang Graffiti Movement memberikan apresiasi kepada Street Art Verse selaku penggagas kegiatan, mengingat inisiatif seperti ini membutuhkan waktu dan dedikasi besar, khususnya di dunia street art yang memiliki tantangan tersendiri. Ia menyoroti tingginya biaya produksi graffiti serta menyarankan agar diskusi lanjutan diadakan untuk mengatur mekanisme kontak dengan para artist yang karyanya diarsipkan di situs. Ia juga mengusulkan kegiatan “jamming bersama” agar Street Art Verse semakin dikenal luas oleh publik.
Alam, juga menyoroti tantangan eksistensi web di tengah dominasi media sosial seperti Instagram. Ia menyarankan agar situs ini mampu menjadi pusat (hub) yang tidak hanya menampung arsip, tetapi juga menampilkan profil artist, komunitas, opini, esai, hingga agenda kegiatan. Ia juga mengingatkan pentingnya merawat anonymity dari artis agar dapat tetap independen. Ianpylok menambahkan bahwa platform ini berpotensi besar menjadi ruang berbagi aktivitas, arsip, dan informasi bagi komunitas street art. Ia menyarankan pengembangan konten yang lebih variatif dan membuka peluang kolaborasi lintas komunitas. Untuk memperkuat sistem arsip, ia mengusulkan agar karya dan informasi dapat dikategorikan dengan lebih spesifik.
Diskusi berlangsung aktif dan produktif, menandai semangat kolaborasi antara pelaku street art dan pengelola Street Art Verse. Diharapkan hasil dari pertemuan ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan platform Street Art Verse ke depan tidak hanya sebagai arsip digital, tetapi juga sebagai ruang bertumbuhnya komunitas street art di Malang dan sekitarnya.
[as]



